Di tengah meningkatnya tuntutan transparansi lingkungan, dua istilah ini sering muncul bergantian: GHG Inventory dan Sustainability Report. Sekilas terdengar mirip, padahal keduanya punya fungsi, cakupan, dan audiens yang berbeda. Memahami perbedaannya penting agar perusahaan tidak salah langkah saat menyiapkan dokumen pelaporan, apalagi jika targetnya adalah kepatuhan regulasi atau sertifikasi.
1. Fokus yang Berbeda
GHG Inventory adalah laporan teknis yang menghitung emisi gas rumah kaca perusahaan dalam batasan organisasi dan operasional tertentu, biasanya mencakup Scope 1, Scope 2, dan kategori Scope 3 yang relevan.
Sustainability Report cakupannya lebih luas. Laporan ini mengungkapkan topik keberlanjutan yang material bagi perusahaan, mulai dari kinerja, pendekatan manajemen, hingga progres yang dicapai. Isinya bisa mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), tergantung tujuan pelaporan dan kerangka yang digunakan.
Singkatnya: GHG Inventory bisa berdiri sendiri atau menjadi salah satu input dalam Sustainability Report. Sementara itu, Sustainability Report memang bisa memuat data emisi, tapi cakupannya jauh lebih luas dari sekadar karbon.
2. Tujuan Penyusunan
- GHG Inventory Report disusun untuk mengukur dan mendokumentasikan emisi gas rumah kaca perusahaan menggunakan metodologi yang diakui, sebagai dasar penetapan target, pelaporan, kepatuhan, dan aksi iklim.
- Sustainability Report disusun untuk mengomunikasikan kinerja, komitmen, dan progres keberlanjutan perusahaan kepada para pemangku kepentingan secara terstruktur dan transparan.
3. Kapan Masing-Masing Dibutuhkan?
- GHG Inventory dibutuhkan ketika perusahaan perlu mengukur emisi secara akurat untuk kepentingan internal, penetapan target, kepatuhan regulasi, permintaan pelanggan, proses asurans, atau pengungkapan terkait iklim.
- Sustainability Report digunakan saat perusahaan perlu mengungkapkan informasi keberlanjutan yang lebih luas kepada pihak eksternal, misalnya dalam pelaporan tahunan, keterlibatan pemangku kepentingan, komunikasi kepada investor, atau upaya transparansi publik.
4. Untuk Siapa Laporan Ini Disusun?
Meski biasanya disusun oleh tim sustainability yang sama, kedua laporan ini ditujukan untuk audiens yang berbeda:
- GHG Inventory umumnya digunakan oleh manajemen internal, tim sustainability, verifikator/penyedia asurans, regulator (bila berlaku), serta pihak eksternal yang meminta data emisi seperti pelanggan, investor, dan lembaga pembiayaan.
- Sustainability Report umumnya digunakan oleh investor, regulator, pelanggan, karyawan, lembaga pembiayaan, mitra bisnis, LSM, hingga masyarakat luas untuk memahami topik material, kinerja, komitmen, dan ketahanan jangka panjang perusahaan.
5. Kerangka Pelaporan yang Digunakan
Masing-masing laporan mengacu pada standar yang berbeda:
| GHG Inventory | Sustainability Report |
| GHG Protocol | GRI Standards |
| ISO 14064 | IFRS S1 & S2 |
| Faktor emisi/panduan IPCC | TCFD |
| SASB Standards |
Kesimpulan
GHG Inventory dan Sustainability Report bukan dua hal yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. GHG Inventory memberi fondasi data emisi yang akurat dan terverifikasi, sementara Sustainability Report menyampaikan gambaran keberlanjutan perusahaan secara menyeluruh kepada publik dan pemangku kepentingan.
Bagi perusahaan yang baru memulai perjalanan keberlanjutannya, langkah yang tepat biasanya dimulai dari penyusunan GHG Inventory yang kredibel — sebelum melangkah ke penyusunan Sustainability Report yang lebih komprehensif.
Butuh bantuan menyusun atau memverifikasi GHG Inventory sesuai ISO 14064, atau ingin memastikan sistem manajemen perusahaan Anda siap untuk pelaporan keberlanjutan?
PT Idea Multiple Management siap membantu proses inventarisasi emisi GRK dan konsultasi kebutuhan sustainability perusahaan Anda. Hubungi tim kami untuk konsultasi lebih lanjut!